Ferdinando Lase's Weblog

Just a little things about me…

Kebanggaanku = Kehancuranku

me-and-my-sons-2Sudah cukup lumayan banyaknya kegiatan-kegiatan yang telah saya lakukan dan membuat saya merasa bangga olehnya. Sudah cukup lumayan juga banyaknya kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan oleh orang-orang yang berada disekitar saya dan membuat saya merasa bangga. Sebagai contoh tanpa sengaja memepersiapkan kedua anak laki-laki saya, pada semester ini mereka berprestasi sangat baik. Keduanya memperoleh Ranking I di kelasnya masing-masing. Contoh lainnya, dengan membanting tulang mendidik dan mengajari anak orang lain sehingga mereka dapat berprestasi dalam olimpiade komputer (walaupun hanya pada tingkat kota dan propinsi saja). Sejujurnya ada perasaan bangga karenanya.

Jika saya mengingat kembali ketika masih duduk di bangku SD dan SMA, saya selalu berprestasi dalam cabang olah raga sepatu roda. Prestasi tertinggi yang pernah saya raih adalah memecahkan rekornas sprint 200m putra pada Pekan Olahraga Daerah Irian Jaya – Tahun 87. Saya pernah beberapa kali mewakili propinsi paling timur di jagat Indonesia dalam kejuaraan nasional sepatu roda. Hal-hal tersebut membuat saya bangga oleh karenanya.

Namun ada juga beberapa kegiatan-kegiatan yang mendatangkan kehancuran bagi saya di dalam kehidupan ini. Kehancuran yang juga pernah dialami oleh orang lain, seperti diputusin pacar, tidak naik kelas, dihukum oleh orang tua dengan tidak boleh mengendarai sepeda motor kesayangan selama 3 bulan lamanya, tidak boleh bermain tennis lapangan selama 2 bulan lamanya dan yang lainnya. Namun semua itu sudah berlalu. Semua itu saya jadikan pelajaran sehingga tidak terjerumus kembali ke dalam kehancuran-kehancuran tersebut. Saya jadikan pelajaran yang berharga sehingga dapat mendatangkan perasaan Bangga menjadi diri sendiri.

Namun, pernahkan Anda mengalami perasaan bangga dan hancur secara bersamaan? Mungkin anda bertanya apa maksud dari judul halaman ini “Kebanggaanku = Kehancuranku“. Jika Anda ingin tahu, jangan tinggalkan halaman ini dan teruslah membacanya.

Jika Anda pernah membaca halaman Bagaswara Dei Gratia pada blog ini, Anda bisa memahami perasaan saya. Beberapa waktu lalu (antara akhir bulan November 2008 dan awal bulan Desember 2008) ketika saya baru saja sampai di rumah istri saya melaporkan suatu tindakan yang telah dilakukan oleh Bagas anak saya. Sebuah tindakan yang menurutnya merupakan aib bagi keluarga kami. “Pap, saya diberitahu oleh gurunya Bagas supaya kita besok datang ke sekolahnya. Rupanya anakmu ini sudah menjadi seorang jagoan!!!”. Jagoan???

Yah, Bagaswara Dei Gratia Lase yang sejak masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak hingga sehari sebelum kejadian yang menimpanya di sekolah dikenal sebagai anak pendiam, penurut, baik, selalu menghindari masalah, tepatnya menjadi kesayangan para guru. Namun kini ia berubah!!! Bagaswara Dei Gratia Lase alias Kabar Baik Pemberian Tuhan kedapatan berkelahi di sekolahnya. Akibat dari perbuatannya itu, kami selaku orang tuanya harus menghadap guru pada keesokan harinya.

Kejadian yang dianggap aib oleh istri saya ini membuatnya malu untuk datang menghadap guru. Sehingga saya putuskan untuk pergi sendiri. Sepanjang malam saya tidak bisa memejamkan mata, walau untuk beristirahat sejenak. Terlintas berbagai pertanyaan dalam benak saya ini. Bagaimana bisa terjadi? Apa yang harus saya katakan kepada gurunya di sekolah besok? Apa pula yang harus saya katakan kepada orang tua murid yang dihajar oleh Bagas anak saya? Bagaimana kalau anak tersebut menderita cedera parah, atau cacat? Sangsi apa yang kiranya akan menimpa Bagas? Apakah saya telah salah mengasuh dan mendidik anak saya? Dan masih jutaan pertanyaan yang tak mampu saya jawab pada malam itu.

Namun jujur saya katakan kepada Anda para pembaca, saya BANGGA pada Bagas. Bangga karena di dapat membuktikan bahwa dia akan menjadi seorang laki-laki yang berani. Bangga karena ternyata dia dapat membela dirinya walau harus dengan berkelahi. Bahkan sempat terlintas saya akan memasukkan dia pada sebuah DOJO (tempat latihan karate) seperti yang dilakukan oleh ayah saya ketika saya masih duduk di bangku kelas 4. Saya harus mempersiapkan anak saya yang satu ini supaya dapat menguasai teknik-teknik bela diri seperti yang dimiliki oleh Bruce Lee, Jet Lee, Jacky Chan, bahkan seperti legenda-legenda kung-fu negeri tirai bambu.

Pagi pun menjelang, saya bergegas menemui sang guru. Saya masih belum mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang terlintas dalam benak saya semalam. Sepeda motor saya pacu selambat mungkin. Hanya untuk mengulur waktu, mungkin dengan demikan saya akan mendapatkan ilham di jalan. BENAR!!!! Akan saya katakan kepada guru dan orang tua murid yang menjadi korban keganasan Bagas, “Namanya saja anak-anak pak… bu… toh nanti mereka akan melupakan apa yang telah terjadi. Biarkanlah mereka belajar untuk memecahkan masalah mereka sendiri. Selaku orang tua kita seharusnya mengarahkan mereka agar mereka dapat menyelesaikan persoalan mereka dengan jalan damai. Namun, buat Bagas tetap akan saya berikan sanksi yang cukup keras di rumah agar dia jera dan tidak melakukan perbuatan seperti ini lagi”. Bukankah jawaban seperti itu adalah jawaban yang sangat BIJAKSANA? Jawaban semacam itu akan meruntuhkan hati yang keras membatu dari orang tua siswa yang menjadi korban keganasan Bagas pikir saya. Bagaimana menurut Anda?

Dengan mantap hati, saya meningkatkan laju kecepatan motor. Sampailah saya di ruang guru, dan berhadapan dengan wali kelas dan kepala sekolah Bagas. Saya menjadi heran, karena tidak ada orang tua lain selain saya. Pikir saya mungkin beliau sudah datang mendahului saya, atau akan menyusul, atau sudah mempercayakan semuanya kepada pihak sekolah untuk menyelesaikan dengan memberikan hukuman seberat-beratnya kepada Bagas, atau mungkin mereka takut kepada saya. (anaknya saja begitu, apalagi bapaknya yah….)

Saudara pembaca, seluruh rencana yang saya pikirkan dalam perjalanan tadi semuanya berantakan! Semua kebanggaan yang saya rasakan semuanya runtuh. Bahkan saya merasakan keterpurukan dan kehancuran yang teramat sangat. Ditambah lagi perasaan malu se-malu-malu-nya ketika mendengarkan penjelasan dari pihak sekolah. Ternyata saya adalah orang tua yang anaknya bertindak sebagai PELAKU dan juga sebagai KORBAN.

Bagaswara Dei Gratia Lase, yang sempat membuat perasaan saya membumbung tinggi di langit ke-7 juga mencampakkan saya ke dasar bumi hingga pada lapisan ke-7. Bagaswara Dei Gratia Lase telah berkelahi dengan Damian Desmonda Lase yang jelas-jelas adik kandungnya sendiri. Dapatkan anda mengerti perasaan saya ketika tahu itu semua? Saya hanya dapat menertawakan diri saya sendiri. Ternyata saya ini belum dapat menjadi ORANG TUA yang baik. Saya masih harus belajar lebih banyak lagi tentang cara mendidik anak.

Tuhan…

terima kasih atas pelajaran yang Kau berikan

melalui tindakan kedua anak-anak yang Kau

titipkan kepada kami.

Amin

Kembali

3 Tanggapan to “Kebanggaanku = Kehancuranku”

  1. apri said

    yg sabar ya bos………….

    namanya jg ank2..
    hehehhe mmg gampang ya kalo cm ngomong doang,,apri blom mengahadapinya seh

    tp apri smpt kaget….
    t’nyata mrk juga dah b’tmbh bsr yach…..pdhl dolo msh lucu2

    salam tuk ibu dan ank2 yach

  2. Ruqi said

    Maap gan mw tanya
    Setelah bca artikelnya agan, sya ingin bertanya.
    Memang agan tdak tnggal dgn anak2 agan ya???

    • Ferdinando Lase said

      Hahahaha…

      Jangan panggil saya ‘agan’ bos… 🙂
      Saya tinggal bersama dengan kedua anak-anak saya. Tapi kalau boleh saya jujur, kedua anak saya itu tidak terlalu terbuka terhadap diri saya, mereka lebih dekat dengan ibunya. Sementara tuk kejadian yang saya tuliskan dalam posting ini, istri saya sendiri mau memberikan “surprise”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: