Ferdinando Lase's Weblog

Just a little things about me…

Intel Getting Started

Berbagai kegiatan penataran dan pelatihan mulai dari in house trainning yang diselenggarakan oleh tempat kerja kami hingga yang dilaksanakan pada level nasional pernah saya ikuti. Hampir semuanya memiliki kesamaan dalam model dan metode penyajiannya. Hasilnya pun sama, suasana yang tercipta begitu hening sehingga memberikan kesan bahwa seluruh peserta begitu terpesonanya dengan penyaji, atau pada materi yang dibawakannya. Saking heningnya kebanyakan peserta mulai merenungkan dalam-dalam apa saja yang telah disampaikan oleh penyaji dalam tidurnya ketika penyaji masih asik bercuap-cuap di depan kelas.

Tapi berbeda ketika saya mengikuti pelatihan MT (Master Trainner) Intel Teach yang diselenggarakan oleh Pustekkom dan Intel Education Indonesia beberapa waktu lalu di Jakarta. Awalnya saya agak pesimis mengingat kelas tersebut hanya terdiri dari 10 peserta dari 10 provinsi. Disamping itu menurut saya materi yang disampaikan sudah saya kuasai, sehingga dapat saya prediksikan bahwa akan lebih banyak kegiatan “TIDUR” di dalam kelas.

Prediksi saya SALAH!!! Dugaan saya sungguh tidak tepat! Memang betul bahwa hampir sebagian besar materi yang disajikan telah saya kuasai dengan baik seperti pemanfaatan internet, pengolah kata, pengolah angka, multimedia, dan beberapa materi lainnya. Namun kegiatan yang dimulai sejak pukul 8.00 hingga 18.00 terasa sangat pendek, kurang, dan terlalu cepat. Mengapa tidak? Penyaji hanya bertindak sebagai fasilitator saja sehingga kami para peserta lebih banyak beraktivitas sehingga kami lebih banyak berpikir, dan berpikir. Itulah sebabnya waktu yang disediakan bagi kami terasa sangat singkat.

Sekembalinya kami dari Jakarta, saya diserahkan tanggung jawab untuk membagikan ilmu dan begitu banyak informasi yang telah kami dapatkan kepada rekan-rekan guru calon MT (Master Trainner) di Papua. Sejujurnya saya akui bahwa saya sangat kecewa karena materi yang harus saya berikan bukanlah materi yang telah saya peroleh di Jakarta waktu itu. Bukan Intel Teach yang harus saya bawakan melainkan Pemanfaatan TIK yang tidak saya peroleh pada waktu itu. Beruntung materi tersebut pernah saya peroleh ketika mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh Pustekkom pada tahun 2007 di Jogjakarta, sehingga saya sanggupi.

Daerah pelayanan pertama saya adalah kota Nabire dengan sasaran 30 orang guru calon MT. Saat saya menyampaikan materi-materi kebijakan pemerintah, peserta pada TIDUR. Saya pikir ini adalah hukuman bagi saya karena saat saya berposisi sebagai peserta, tidur merupakan kegiatan rutin saya ketika mentor membawakan materinya.

Ketika usai kegiatan hari pertama, saya kemudian berusaha untuk memodifikasi materi-materi yang sebelumnya telah disiapkan oleh Pustekkom dengan sentuhan-sentuhan Intel Teach. Dimana kolaborasi, berpikir kritis, dan bergaya plan-do-review-share menjadi hukum utamanya. Hasilnya… saya sangat terkesan. Apa yang pernah saya rasakan ketika mengikuti pelatihan Intel Teach kini dirasakan pula oleh 30 peserta. Antusias yang tinggi serta semangat belajar untuk menghasilkan sebuah product bergitu nampak. Para peserta yang terbagi dalam beberapa kelompok saling bersaing untuk menghasilkan produk terbaiknya.

Hal yang sama juga saya lakukan ketika saya membawakan kegiatan yang sama di kabupaten Keerom. Antusiasme peserta begitu tinggi, tidak tampak rasa jenuh dan bosan selama mengikuti kegiatan. Saya bahwak merasa sedikit kesal karena walaupun dalam waktu jeda/istirahat tetap saja saya diganggu dengan pertanyaan-pertanyaan beberapa peserta. Namun saya sadar, bahwa itu menandakan bahwa peserta senang dan menyukai apa yang saya bawakan. Terpujilah TUHAN.

Perbedaan lain juga nampak di sekolah tempat saya mengajar. Dengan menggunakan pola plan-do-review-share, dan dilandaskan dengan cara berpikir kritis serta berkolaborasi kegiatan belajar menjadi lebih menyenangkan. Manfaat bagi siswa yang tampak oleh saya bahwa mereka tidak mudah lupa dengan materi yang terlah disampaikan sebab mereka sendiri yang menggali, mencari, mencerna, mengolah, hingga menyimpulkan sendiri. Bagaimana mungkin mereka dapat melupakan apa yang telah mereka alami sendiri? Sedangkan manfaatnya bagi saya secara pribadi mengajar bukanlah kegiatan yang melelahkan, kegiatan yang menjengkelkan bila mendapati siswa yang sulit memahami apa yang saya sampaikan. Terlebih-lebih perasaan senang dan bangga bila melihat hasil yang telah diperoleh para siswa.

Masih ada obsesi saya yang belum terlaksana hingga kini. Membagi pengetahuan saya tentang Intel Teach bagi rekan-rekan guru di Papua, khususnya di SMA YPPK TERUNA BAKTI JAYAPURA.

Satu Tanggapan to “Intel Getting Started”

  1. ruland said

    Saya peserta pertama yang akan mendaftar pak….. salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: