Ferdinando Lase's Weblog

Just a little things about me…

Buat Kaum Adam

Sebelumnya saya ingin menyampaikan Puji dan Syukur saya kepada Allah Sang Pencipta, karena telah memberikan kepada saya seorang istri yang sungguh-sungguh baik.

Halaman ini saya persembahkan kepada Anda para Kaum Adam yang akan maupun sudah menikah, terlebih bagi mereka yang mengalami banyak pergumulan didalam bahtera pernikahan mereka. Saya mohon maaf kepada Anda sekalian karena saya tidak bermaksud untuk mengajari Anda perihal hidup berumah tangga. Saya hanya ingin menuangkan dan membagi sedikit pengalaman yang telah saya alami beberapa waktu yang lalu kepada Anda. Siapa tahu dengan membaca halaman ini, Anda bisa menghindari apa yang telah saya alami bersama dengan keluarga atau Anda dapat melakukan apa yang telah saya lakukan agar bisa keluar dari kemelut yang sedang ada alami didalam keluarga Anda.

Semuanya berawal ketika saya mulai melibatkan diri sebagai Sekertaris III Dewan Paroki Kristus Terang Dunia Waena Jayapura. Salah satu kegiatan yang telah dijadwalkan oleh Dewan Paroki (DEPA) adalah kursus Evangelisasi Pribadi yang dilaksanakan pada 25 Maret -† 1 April 2009. Menjelang pelaksanaan kegiatan tersebut, saya dan rekan-rekan anggota DEPA mulai melakukan berbagai persiapan. Pada saat yang bersamaan, pekerjaan utama saya sebagai seorang guru pun sangat menyita waktu, tenaga dan pikiran saya. Ujian mid semester, dilanjutkan dengan ujian praktek bagi siswa kelas XII, mengolah nilai para siswa, dan lainnya. Saya tetap bersemangat sehingga waktu saya benar-benar saya pergunakan untuk kedua kegiatan tersebut.

Saya meninggalkan rumah sejak pukul 07:00 hingga 15:00 untuk kegiatan di sekolah. Kemudian pada pukul 16:00 – 21:00 saya bergabung dengan rekan-rekan DEPA untuk mempersiapkan kegiatan evangelisasi pribadi. Tiba di rumah saya masih menyempatkan diri untuk berselancar di dunia maya. Rumah bagaikan sebuah HOTEL dimana saya makan, dan beristirahat.

Hal ini rupanya menimbulkan kemarahan pada istri saya. Pada awalnya dia telah berusaha untuk mengingatkan saya supaya jangan terlalu banyak bekerja karena khawatir jika nantinya kesehatan saya terganggu. Namun permintaannya itu saya jawab dengan kalimat “Saya bekerja untuk TUHAN, jadi biarkanlah TUHAN yang merawat saya. Kamu tidak perlu khawatir!”. Kalimat itu tanpa saya sadari telah melukai hatinya. Hingga pada puncaknya dimana istri saya sudah tidak dapat menahan sakit hatinya.

Rabu, 25 Maret 2009 saya pulang ke rumah pukul 14:30. Kebetulan kegiatan kursus evangelisasi pribadi mengambil tempat di Aula sekolah kami, sehingga seusai kegiatan sekolah saya langsung melibatkan diri untuk melakukan persiapan terakhir di sana. Tiba di rumah, saya langsung mandi dan bersiap untuk kembali ke aula sekolah untuk menghadiri acara misa pembukaan yang dipimpin oleh Uskup Jayapura Mgr. Leo Labaladjar, OFM.

Belum sempat melangkah ke luar rumah, amarah istriku meledak-ledak. Intinya dia tidak menginginkan saya untuk pergi, melainkan beristirahat dan berkumpul dengan keluarga. Saya sempat memotong pembicaraannya dengan keras “DIAM!!!”. Ketika itu saya sempat melihat air matanya mulai menetes, namun saya tetap melangkah keluar. Di† dalam hati saya mengatakatan mengapa sebagai istri dia tidak bisa mendukung saya?

Sejak itu hubungan kami menjadi kurang harmonis. Kami berdua diam seribu bahasa. Rumah kami bagaikan neraka. Kedua anak kami mengerti bahwa sedang terjadi perang diantara kami, sehingga mereka pun berusaha untuk “DIAM” agar terhindar dari amarah saya.

Kamis, 26 Maret 2009 Bagas mengantarkan kunci rumah kepada saya di ruang aula. Ketika ditanya kemana mereka hendak pergi, dia menjawab “Saya tidak tahu pa, mama yang suruh mengantar kunci ini buat papa”. Sekali lagi di dalam hati saya bersungut-sungut… “Pergi sana…. ga usah pulang sekalian!!!”… Apa yang saya kerjakan sejak saat itu tidak pernah beres, semua kacau. Jelas saja… pikiran saya tidak di tempat. Hal ini rupanya dapat di baca oleh bapak Benyamin Rato (Ketua DEPA). Beliau mulai mencoba menggali apa yang ada dalam pikiran saya. Kepadanya saya menceritakan semuanya, dan memohon kepada beliau dan istrinya untuk mendoakan kami sekeluarga.

Jumat, 27 Maret 2009 saya berusaha untuk tampil “cool” dihadapan semua orang yang menghadiri kursus. Namun apa yang saya sembunyikan di dalam pikiran dapat terbaca dengan sangat jelas oleh ibu Josepha. Beliau merupakan salah seorang dari 4 orang nara sumber yang memberikan kursus kepada kami. Saya tidak mengerti apa dan bagaimana kami memulai pembicaraan kami namun yang saya ingat, kepada saya beliau mengarkan beberapa doa dan berjanji akan mendoakan saya dan keluarga.

Saya kemudian mohon diri untuk pulang sejenak. Sepanjang perjalanan pulang saya mencoba mengucapkan doa yang baru saja diajarkan oleh ibu Josepha. “Tuhan, Engkau telah berjanji kepada kami… bahwa satu orang Kau selamatkan, maka seluruh keluarganya turut Engkau selamatkan. Oleh sebab itu saya memohon kepada-Mu, agar selamatkan keluarga kami. Amin”. “Tuhan yang Maha Kasih, jikalau aku salah… ampuni salahku ya Tuhan. Namun jikalau istriku yang bersalah, ampunilah dia ya Tuhan… Runtuhkanlah semua kekerasan hati kami, dan biarkanlah kami melihat pancaran cinta kasih-Mu di antara kami. Amin”.

Tiba di rumah, saya tidak menemukan istri saya. Entah kemana dia pergi. Saya kemudian menyempatkan diri untuk duduk bersama anak-anak menyaksikan sebuah tayangan film di TV. Tak berapa lama kemudian istri saya datang. Saya mencoba untuk menyapanya, “Kamu dari mana?”. Sungguh tak saya sangka-sangka dia membalas sapaan saya dengan ramah, tanpa terlihat sedikitpun amarah dari raut wajah dan hatinya. “Saya dari kantin…”. Kemudian dia mengambil tempat tepat disisi kanan saya, dan kami pun mulai bercengkrama. Dia mencerikatan tentang dagangannya di kantin sekolah, namun saya tidak habis-habisnya mengucap syukur kepada Tuhan. Persoalan kami tuntas begitu saja, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa diantara kami sebelumnya.

Setelah mendengarkan ceritanya, kemudian saya pamit untuk kembali ke ruang aula. “Jangan lupa bawa air minumnya pa…”. “Kalau kamu sakit lagi… siapa yang repot?”. Saya mengambil sebotol air mineral dan melangkah keluar. Air mata saya kini yang menetes. Tiba di aula saya hendak menceritakan apa yang barusan saya alami kepada ibu Yosepha. Namun beliau tengah menjalankan tugasnya membawakan materi sehingga saya harus menunda niat saya itu. Rupanya Tuhan masih mau mengetuk hati saya dengan mengutus bapak Jatmiko kepada saya. Beliau adalah rekan ibu Yosepha. Kepada saya beliau menjelaskan banyak hal. Namun beliau lebih menekankan tentang perang suami sebagai imam ditengah-tengah keluarga.

Tugas seorang imam ditengah keluarga adalah MENDENGARKAN, MENDOAKAN, dan MELAYANI. Dengan mendengarkan kita dapat menyelamatkan. Bagaimana bisa??? Jika Anda seorang Kristen, Anda pasti tahu bersama siapa Yesus disalibkan. Seorang penjahat menantang Yesus untuk turun dari salibnya jika Ia adalah Mesias. Namun seorang lainnya malah memintah Yesus agar tidak melupakannya jika Ia kembali. Apa yang Yesus lakukan? Walaupun Ia sedang mengalami kesakitan yang hebat, Ia tetap mendengarkan permintaan penjahat kedua. “Hari ini juga… engkau bersamaKu di taman firdaus”.

Apa yang selama ini kita lakukan? Pulang kerja kita tidak mau meluangkan waktu untuk anak atau istri yang mau menyampaikan sesuatu kepada kita. “Ah… nanti saja! Saya capek!”. “Kamu tidak tahu… papa baru pulang nih! Sana… minta sama mamamu!”. Padahal penderitaan yang kita alami tidak separah yang dialami oleh Yesus. Apa yang terjadi jika pada waktu itu Yesus mengatakan “Persetan dengan kamu!” kepada penjahat yang kedua? Pasti ia tidak akan terselamatkan.

Mendoakan merupakan tugas wajib lainnya. Saya kira untuk yang satu ini saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar sebab saya yakin Anda jauh lebih pahan dibandingkan saya. Tugas yang terakhir adalah melayani. Melayani keluarga walaupun dalam hal yang sepele dapat memberikan dampak yang luar biasa bagi meraka. Salah satu bentuk pelayanan terhadap keluarga antara lain adalah dengan mengantarkan anak ke sekolah. Mungkin itu bukanlah hal yang luar biasa bagi Anda, bahwakan kita sering menganggap itu merupakan kegiatan yang dapat mengganggu pekerjaan kita. Namun tahukah Anda bahwa itu sangat dibutuhkan oleh sang anak?

Itulah beberapa tips yang disampaikan oleh bapak Jatmiko kepada saya. Saya sadari dari ketika persayaratan yang simple itu tidak ada satupun yang mampir pada diri saya. Mudah-mudahan Anda memilikinya. Lakukanlah semua itu tahap demi tahap, dan bersabarlah. Walaupun syarat untuk menjadi “Pria Sejati Katolik” itu mudah, namun sangat sulit dalam pelaksanaannya.

3 Tanggapan to “Buat Kaum Adam”

  1. Devy said

    Waow…
    Memang Tuhan itu Dhasyat betul kasih-Nya, dan juga terima kasih kpd bpk krn sdh mau membagi pengalamannya, terutama doa itu. Saya dh copy paste neh…:)

  2. ruland said

    Kisah yang … (aku tak dapat berkata apa-apa), tapi ini menjadi renungan yang bagus…., terlebih untuk saya…

  3. ruland said

    Pak, menurutku ini sangat menarik, bisa dimasukkan di renungan katolik http://www.pondokrenungan.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: