Ferdinando Lase's Weblog

Just a little things about me…

Sungguh Besar Cinta dan KasihNYA kepadaku

Posted by Ferdinando Lase pada Mei 5, 2012

Rabu, 2 Mei 2011 yang lalu menjadi salah satu hari yang bersejarah dalam hidupku. Sore itu suasana Waena tempat kami tinggal terasa menegangkan. Dari dasas-desus yang kami dengar, sekelompok masa akan melakukan tindakan “balas dendam” atas tewasnya salah satu rekan mereka sehari sebelumnya dalam sebuah insiden di kota Sentani.

Waktu menunjukkan pukul 17.00 WIT, saya dan istri bergegas menuju rumah adik saya untuk mengantarkan beberapa bahan makanan untuk diolahnya. Dalam perjalanan suasana mencekam sudah sangat terasa. Sepanjang jalan raya Jayapura-Sentani mulai dari pertigaan Yoka-Sipur hingga kantor Tenaga Kerja Waena disekaki oleh ribuan orang yang tidak dapat melanjutkan perjalanan menuju kota Sentani karena terjadi pemalangan oleh sekelompok masa di TPU Waena Kampung.

Jarak dari rumah saya ke rumah adik hanya terpaut 1,5 Km, namun harus kami tempuh dalam waktu lebih dari 10 menit karena jalan raya disesaki oleh ratusan kendaraan roda dua dan empat yang berhenti di bahu jalan. Tidak lebih dari 5 menit di rumah adik, kami memutuskan untuk segera pulang. Betapa terkejutnya kami ketika sampai di jalan raya. Jalan yang tadinya penuh sesak oleh ratusan kendaraan bermotor itu, kini sepi. Toko, warung, bengkel, pomp bensin, kantor, dan semua bangunan yang berada di sisi jalan tutup. Jalan yang dijejali oleh ribuan orang pun menjadi sepi. GILA!!! 5 menit saja, semua berubah seperti kota mati. Honda Beat milik istriku saya geber. 2 menit tiba di rumah.

Tenang? TIDAK!!! Anak tertuaku belum juga sampai di rumah. Bagas sedang mengikuti latihan basket di sekolahnya guna mengahadapi pertandingan memperebutkan piala wali kota Jayapura. Tanpa berpikir panjang, istri saya tinggal dan langsung bergegas menjemput Bagas. Situasi di Padang Bulan (tepatnya di depan Hola Mall) sangat kacau. Terjadi kepanikan yang menyebabkan kemacetan yang luar biasa. Beruntung saya menggunakan motor kecil sehingga bisa dengan gesit saya menembus kemacetan itu.

Hari sudah gelap ketika saya tiba di sekolah Bagas. Saya hanya mendapatkan 2 orang teman se-team Bagas yang kebingungan karena tidak ada satupun angkutan umum yang bergerak dari Abe menuju Waena tempat mereka tinggal. “Bagas di mana?”, tanyaku kepada mereka. “Bagas sudah pulang duluan om. Dia naik taksi (angkot)”. “Lalu, kalian sedang apa di sini?”, tanyaku kembali. “Kami masih menunggu taksi”. Tanpa berpikir panjang lagi, saya menawarkan untuk mengantarkan mereka pulang dan mereka menyetujuinya.

Hari sudah semakin gelap ketika saya tiba di rumah mereka. Suasana kian mencekam. Dari kejauhan saya hanya melihat 1-2 motor yang lalu-lalang dengan santainya di jalan raya. Dari kejauhan pula saya melihat sekolompok kecil orang (4-5 orang) berjalan. Masih aman dong kata hatiku. Dengan percaya diri saya melanjutkan perjalanan pulang melalui jalan yang tampak damai itu.

Ketika keluar dari mulut gang saya tidak terlalu memperhatikan situasi jalan raya karena saya yakin situasinya sangat kondusif. Tapi ternyata saya salah! 1000% SALAH!!!. Kesalahan itu baru saya sadari ketika sudah berada di jalan utama. Ternyata saya masuk ke dalam rombongan masa yang sangat tidak bersahabat dengan lingkungan. Disebelah kanan dan kiri jalan tampak orang berjalan berbaris. Dari kaca motor saya melihat rombongan masa dalam jumlah yang sangat banyak bergerak maju. Di depan saya terdapat beberapa kelompok kecil masa (5-10 orang) yang berjalan menghalangi jalan. Ditangan mereka semua tampak berbagai alat seperti parang, balok, batu, dan lain sebagainya. Merekapun dikawal oleh beberapa orang yang mengendarai sepeda motor, berboncengan dan membawa berbagai macam alat seperti yang sudah saya sebutkan tadi. Sepanjang jalan mereka melempari bangunan-bangunan disepanjang jalan. Mereka juga menghampiri orang-orang yang berada dipinggir jalan untuk memastikan bahwa mereka yang berdiri dipinggir jalan adalah orang-orang yang sepaham dengan mereka.

Saya berusaha untuk tenang. Tapi tanpa saya sadari, salah satu dari mereka rupanya memperhatikan saya. Dia mendekat, lalu menatap saya dalam-dalam. Dan tiba-tiba dia berteriak… “BUNUH!!! BUNUH!!! BUNUH!!!”. Seketika itu pula mereka berusaha mengepung saya. Namun dengan refleks saya pun langsung tancap gas, menerobos hadangan kelompok kecil di depan saya. Beberapa sepeda motor langsung mengejar saya. Kejar-kejaran terjadi tepat di depan jembatan Expo Waena hingga perempatan Saga Mall Waena (+- 300 meter).

Dari kejauhan saya melihat ratusan orang sudah menghadang diperempatan Mega Mall – PTUN Waena. “Saya tidak dapat menembus mereka. Selesailah sudah”, itu yang terlintas di dalam benakku. Saya langsung teringat akan istri dan anak-anak, dan hanya bisa berpasrah. Sementara itu orang-orang yang mengejar saya dengan sepeda motor kian dekat seraya berteriak “BUNUH!!! BUNUH!!! BUNUH!!!”. Rupanya masa yang berada di perempatan jalan itu tidak mendengarkan teriakan itu, karena mereka sedang asik melempari kantor PTUN, dan Mega Mall Waena, namun ketakutan saya tidak juga habis. Mati… mati… dan mati secara mengenaskan. Laju motor saya kurangi, dan akhirnya saya berhenti dihadapan seseorang yang menghadang. Orang itu tidak saya kenal. Dia terlihat masih muda. Bertubuh atletis, namun dia terlihat bersahabat. Ia lalu bergerak di kiri guna memberikan jalan kepada saya sambil menepuk bahu kanan saya dan berkata “Cepat… Cepat kabur!!!”.

Entah apa yang ada di dalam benak saya. Entah apa yang sebenarnya terjadi. Saya dapat dengan bebas melaju kencang diantara orang-orang yang berdiri di tengah jalan itu tanpa menyenggol mereka sedikitpun. Saya sempat melihat ayunan balok, parang di atas kepala saya. Motor saya terasa seperti dipukuli, dilempari. Bunyi benturan yang keras terdengar pada bodi motor saya. Namun tak satupun yang mengenai saya.

Tiba di rumah, saya bertanya kepada istri apakah Bagas sudah pulang. “Dia belum pulang… Bagaimana ini pa?”, tanyanya dengan ekpresi sangat ketakutan dan panik. Saya tidak mengatakan kepadanya apa yang baru saja saya alami. Yang saya katakan hanya “Kalau sampai jam 22.00 saya belum pulang, tolong hubungi suami ibu Dorce untuk minta bantuannya mencari saya…”. Suami rekan kerja saya adalah seorang anggota polisi. Harap saya dia bisa mencari saya bila terjadi apa-apa di jalan.

Balik kanan dan tancap gas lagi untuk mencari Bagas dengan perasaan yang sangat kacau. Namun belum jauh dari rumah, saya mendengar suara yang tidak asing di telinga saya. “Pah… Papah… Jangan keluar!!!”. Puji TUHAN… itu suara Bagas. Rupanya ketika saya masuk kompleks, dia pun tiba dengan menggunakan ojek. Lemas rasanya… Mau ambruk dari motor rasanya…

Kembali ke rumah, hal yang saya lakukan adalah merebah di kasur, menangis dan mengucap syukur kepada TUHAN. Istri saya tampak lebih binging… usai mengucap syukur, saya menceritakan semuanya. Ia memelukku dengan sangat erat sambil menangis histeris, dan berkata dengan lantang “TUHAN YESUS… terima kasih karena ENGKAU sungguh baik. ENGKAU menjaga dan mengantarkan suamiku pulang dengan selamat sampai di rumah”.

Beberapa jam kemudian setelah tenang saya merenungkan kembali apa yang sudah terjadi. Mau saya katakan kepada saudara pembaca, “Sungguh, saya merasa sangat istimewa di hadapan TUHAN…”. DIA masih mencintai saya. DIA masih mempercayakan saya untuk melaksanakan tugas yang IA berikan. Masih banyak orang-orang yang membutuhkan saya, istriku, anak-anakku, keluargaku, murid-muridku, rekan-rekan guru, dan semua orang yang mencintai saya.

TUHAN, sungguh besar cinta dan kasihMU yang ENGKAU nyatakan bagi diriku. Aku yakin, karena ENGKAU melalui pemuda itu aku selamat dari maut.

Terima kasih TUHAN. Pakailah aku sekehendakMU….

 

Iklan

2 Tanggapan to “Sungguh Besar Cinta dan KasihNYA kepadaku”

  1. Puji TUHAN, Kesaksian yang sangat luar biasa, Tuhan Yesus akan selalu memberkati dan melindungi bapak dan keluarga

    Amiii.

  2. Tuty said

    Puji Tuhan sungguh suatuperistiwa sangat menegangkan tante bisa byangkan itulah keajaiban tuhan memberi mukjijatnya kepdmu sehingga km terhindar dari bahaya.Semoga Tuhan selalu melindungimu n keluarga selamanya Amin.
    Salam tuk Lian Bagas DeDe GBU N fam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: