Ferdinando Lase's Weblog

Just a little things about me…

Dia yang kami nantikan

Posted by Ferdinando Lase pada Mei 3, 2011

Sebelas tahun yang lalu, tepatnya pada 11 Desember 2000 lahir anak laki-laki kami yang kedua Damian Desmonda Lase. Setelah itu kami memang tidak pernah berencana untuk memiliki anak kembali. Usai kelahiran anak kami tersebut, istri saya memilih untuk mengikuti program KB untuk mengontrol kelahiran.

Sepuluh tahun berlalu, kehidupan keluarga kami semakin membaik dilihat dari sisi financial, maupun dari sisi kematangan berkeluarga. Anak-anak tumbuh semakin besar. Semakin besar mereka tumbuh, semakin besar dan banyak pula tuntutan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Hingga suatu saat istri saya mengalami masalah dengan kandungannya akibat terlalu lama menggunakan alat kontrasepsi). Dokter menyarankan untuk menghentikan program KB sementara waktu agar keadaan kandungannya dapat kembali seperti sedia kala. Kami sepakati dan mengikuti anjuran dokter.

Setahun berlalu, dan ternyata kami masih diberikan kepercayaan oleh TUHAN untuk memiliki seorang anak lagi. Kami sangat senang dan berharap dia yang akan datang ditengah-tengah kami kelak berjenis kelamin perempuan. Apalagi ada seorang rekan guru di sekolah tempat saya mengajar bahkan sempat bermimpi melihat seorang anak perempuan yang cantik mengenakan kalung yang terbuat dari mutiara terbaik sedang berdiri di depan rumah saya. Mimpi ini ia ceritakan kepada saya dan teman-teman guru lainnya ketika mereka semua belum mengetahui tentang kehamilan istri saya.

Beberapa keluarga saya pun mengatakan hal serupa. Entah dari mana mereka bisa melihatnya, tapi ada yang melihat dari kebiasaan baru istri saya yang lebih memperhatikan ‘kecantikannya’, posisi tidurnya, hingga filling mereka. Tapi saya sendiri punya keyakinan demikian. Entah mengapa dan bagaimana, bukan filling… tetapi keyakinan.

Keadaan ini membuat suasana dalam rumah tangga kami menjadi sangat berbeda. Bapak, ibu, adik-adik, ipar-ipar, keponakan-keponakan, tetangga, dan teman-teman guru saya memberikan perhatian lebih kepada istri saya. Tidak jarang mereka datang ke rumah hanya sekedar menyapa sikecil yang baru berusia beberapa minggu dalam kandungan istri saya hingga memberikan buah tangan berupa makanan kesukaan istri saya. Suasana ini pula terasa di sekolah tempat saya mengajar. Banyak teman-teman guru yang menanyakan keadaan istri dan bakal keponakan mereka. Sungguh suasana yang menyenangkan.

Situasi ini sempat berubah ketika pada tanggal 16 April 2011 istri saya mengalami pendarahan. Kami sempat panik, dan memaksa dokter kandungan istri saya untuk segera kembali ke Rumah Sakit untuk memeriksa keadaan istri dan janin yang dikandungnya. Puji TUHAN, saat itu kondisi janin kami tidak terpengaruh. Namun dokter mengatakan bahwa kondisi seperti itu dapat mengamcam keberadaan janin.

Setelah mengkonsumsi obat dan melakukan istirahat total selama 4 hari kondisi istri saya pulih kembali. Namun kami terlena dengan situasi ini. Ia mulai melakukan aktifitasnya seperti biasanya. Entah mengapa, semua orang tampaknya terlena. Semuanya kembali seperti keadaan sebelum istri saya mengalami pendarahan.

30 April 2011, 13:00 WIT. Siang itu saya baru saja pulang usai melakukan ujian praktek bagi siswa kelas XII. Setelah pukul 15:00 WIT saya berencana pergi ke suatu tempat bertemu dengan beberapa teman dari komunitas fotografi Loor untuk melakukan sesi foto model (katanya sang model datang dari Jakarta). Istri saya sempat pamit untuk berbejalanja kebutuhan kantinnya sebelum saya berangkat, dan akhirnya dia kembali 15 menit sebelum pukul 15:00.

Saya langsung menuju TKP. Di sana sudah menunggu beberapa orang teman dan 2 model yang akan kami garap. Namun kami masih harus menunggu 2 teman lainnya yang memiliki hajatan kegiatan ini. 16:25 WIT yang ditunggu akhirnya datang. Setelah melakukan beberapa kesepakatan, akhirnya kami bersiap untuk sesi pemotretan. Kamera saya keluarkan dari tas. Sempat 2 kali mencoba untuk memotret serumpun pohon bambu di lokasi untuk sekedar mencari setting kamera yang pas. Tiba-tiba hp saya berdering keras. “Pamajikan” (dalam bahasa Sunda pamajikan berarti istri) tampak pada layar hp saya. “Ada apa lagi neeh… apa dia minta dibelikan martabak atau…???”, itu hal yang sempat terlintas dalam pikiran saya ketika itu.

“Pap… kamu pulang dulu yah… saya sudah tidak tahan… Perut saya terasa sakit sekali”, katanya lirih dari ujung sambungan telepon. “Saya sudah telepon dokter Dharma, dan dia sudah stand by di RS Abe”, lanjutnya. Tanpa pikir panjang, kamera saya kembalikan ke tempatnya dan langsung pulang tanpa pamit kepada teman-teman lainnya. Saya hanya sempat pamit kepada Leoni, seorang siswa saya yang kebetulan memiliki hobby yang sama dengan saya.

Sampai di rumah, kami langsung bergegas menuju RS. Abepura. Setibanya di sana, dr. Dharma yang sudah menunggu segera melakukan pemeriksaan. Tak lama kemudian beliau keluar dengan membawa secarik kertas hasil cetak gambar USG. Tampak dalam gambar tersebut janin bakal bayi kami yang berusia 2 bulan. “Pak, ibu harus benar-benar istirahat total! Upaya penyelamatan bayi hanya dapat dilakukan dengan beristirahat di atas tempat tidur. Dengan banyak bergerak, akan sangat berbahaya bagi janin”. Saya sempat menyakan saran dan masukan dokter. Salah satu jalan keluarnya adalah hanya dengan rawat inap untuk setidaknya 1 minggu. Sayang tidak ada tempat kosong di rumah sakit ketika itu. Lagian istri saya keberatan jika harus dirawat di RS tersebut, entah apa alasannya….

Kami putuskan untuk pulang, dan mencoba mencari ruang di RS Dian Harapan Waena yang kebetulan dekat dengan rumah kami. Kami pulang. Perjalanan yang berjarak kurang-lebih 7 km kami tempuh dalam waktu hampir 45 menit. Itu merupakan perjalanan yang terasa lama. Sesampainya di rumah, istri saya mengkonsumsi obat yang diberikan oleh dokter. Saya kemudian berniat untuk menuju RS Dian Harapan, namun ketika duduk di atas motor, istri saya berteriak… “PAAAA….”

Sebuah situasi yang belum pernah saya lihat seumur hidup saya. Darah segar keluar dengan derasnya dari selangkangan istri saya. Tanpa banyak tanya, ia saya bopong menuju kamar mandi. Sampai di kamar mandi darah segar keluar dalam jumlah yang lebih banyak, dan deras. Sama seperti keluarnya air kencing (maaf) yang sudah ditahan selama 1 jam.  Dari genangan darah di lantai, saya melihat beberapa gumpalan darah kental berwarna merah tua, dan sebuah jaringan berbentuk seperti balon kecil. Tampaknya seperti gumpalan lemak. Seketika itu pula istri saya menangis. Saya tidak dapat berbuat apa-apa… saya tahu bahwa jaringan yang tampak seperti gumpalan lemak itu adalah janin kami.

Istri saya bopong kembali ke kamar, dan kemudian mulai menghubungi orang tua dan sepupu saya dr. Lilya untuk datang membantu (terus terang, saya sudah kehabisan akal saat itu). dr. Lilya dan adik serta ipar saya tiba di rumah. Setelah memeriksa kondisi fisik istri saya, kami pun segera berangkat kembali menjumpai dr. Dharma di RS. Abepura. Ternyata beliau sudah pulang, namun kami masih sempat menemui beberapa perawat yang sempat menangani istri saya pada pertemuan pertama sore harinya.

Berkat bantuan perawat-perawat yang terampil itu, pendarahan istri saya terhenti. Tak lama kemudian dokter Dharma tiba. Menjumpai saya hanya sebentar kemudian pamit untuk memeriksa kondiri istri saya. Berapa menit kemudian beliau keluar sambil menepuk pundak saya. “Pak, kita sudah berusaha untuk mempertahankannya. Namun ibu mengalami pendaharan yang sangat hebat, sehingga….. Tuhan berkehendak lain. Mungkin belum rejeki bapak”.

Saya sudah menduga hal seperti ini yang akan saya hadapi. Saya tidak mau berlarut dalam kesedihan. “Apa yang harus dokter lakukan sekarang?”, itulah pertanyaan saya. Beliau mengatakan akan melakukan pemeriksaan USG untuk mengecek apakah semuanya sudah keluar atau masih ada yang tersisa. Jika memang demikian maka langkah yang harus dilakukan adalah “kuret” (proses pembersihan kandungan). Tak lama berselang, dr. Dharma keluar dan menemui saya. “Incomplete”, katanya. Saya mengerti dan meminta kepada beliau untuk segera melakukan langkah selanjutnya.

Semua proses berjalan dengan baik, dan baru selesai pukul 22:30 WIT. Saya bersyukur, karena setidaknya istri saya selamat dari situasi yang dapat merenggut nyawanya. Kini kondisi istri saya sudah mulai membaik. Semoga terus membaik agar dapat kembali beraktifitas seperti biasanya. Jujur saja sampai dengan saat ini, keadaan rumah kami agak kacau balau… 😀

Janin kami saya makamkan di depan rumah kami, dan saya namai MARIA MEGUMI LASE. Kata Megumi kami ambil dari bahasa Jepang yang berarti Berkat/Rahmat/Grace. Karena memang demikian, walau usianya hanya 2 bulan dalam kandungan, ia telah membawa kebahagiaan kepada keluarga besar kami, tetangga, dan rekan-rekan kerja saya.

Kepada keluarga besar Lase, Tjia, Dumatubun, dan Sampoerno, juga kepada seluruh tetangga kami di komplek Perum Guru SMA YPPK Teruna Bakti, dan kepada seluruh rekan-rekan guru di SMA YPPK Teruna Bakti, kami sekeluarga menyampaikan banyak terima kasih, atas doa, dukungan, dan perhatiannya yang diberikan kepada kami terlebih kepada istri dan Megumi (janin yang dikandungnya).

Kepada dr. Dharma dan para perawat di RS. Abepura, kami sekeluarga sampaikan banyak terima kasih atas ketulusan dalam usahanya melakukan yang terbaik bagi istri dan Megumi anak kami.

Terlebih kepada TUHAN Sang Pencipta, kami mengucap syukur atas semua yang telah Engkau berikan kepada kami. Kami mohon ampun karena tidak dapat menjaga kepercayaan-MU atas anak yang dititipkan kepada kami.

TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil… Terpujilah nama TUHAN!!!

Iklan

2 Tanggapan to “Dia yang kami nantikan”

  1. mukti wibowo (bowo) said

    Subhanallah,. sungguh sebuah peristiwa yang sangat mendebarkan, luar biasa sikap lapang dada, ikhlas, dan sabar yang diperlihatkan oleh sahabat saya ini, engkau tdk sendirian fer..sayapun pernah mengalami hal yang sama, istri keguguran krn kecapekan pulang pergi antar dan menjemput anak pertama kami sekolah, betul sekali fer..Dia yang memberi..Dia pula yang berhak mengambil semuanya, krn kita semua adalah ciptaan-Nya, yakinlah bahwa Dia punya rencana lain untuk kita hamba-Nya yang senantiasa sabar dan bersyukur..

  2. khajock said

    saya harus banyak belajar dari bapak… luar biasa kesabaran dan ketabahan yang bapak miliki. Puji Tuhan amien.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: