Ferdinando Lase's Weblog

Just a little things about me…

DBL 2010 Papua Series

Posted by Ferdinando Lase pada Maret 9, 2010

Perhelatan turnamen bola basket antar pelajar terakbar di Indonesia Development Basket Ball selalu menjadi ajang yang dinantikan oleh para pencinta olahraga bola basket. Turnament ini memberikan banyak harapan kepada setiap pencintanya mulai dari atlit hingga seluruh warga sekolah. Bagaimana tidak bagi atlit itu sendiri apabila dapat terpilih dalam First Team dari kota asalnya ia memperoleh kesempatan untuk mendapatkan pelatihan dari pelatih-pelatih bola basket NBA dan mendapatkan kesempatan pula berlatih dan bermain bersama salah satu bintang NBA yang didatangkan dari Amerika Serikat di DBL Arena Surabaya.

Jika atlit tersebut terpilih dalam DBL All Star ia akan berkesempatan untuk mewakili Indonesia bertandang ke Amerika Serikat berhadapan dengan† para pemain muda usia di sana. Sementara bagi sekolah sendiri, ajang DBL ini dapat dijadikan sebagai tolak ukur pembinaan live skill para siswa dan dapat pula dimanfaatkan sebagai sarana promosi sekolah. Hal ini terbukti pada SMA YPPK Teruna Bakti tempat dimana saya mengabdi sebagai guru. Pada penyelenggaraan DBL Papua Series tahun 2009, tim putri kami keluar sebagai pemenang setelah mengalahkan tim SMA N 1 Jayapura dan tim putra kami hanya berada pada posisi ke-dua setelah dikalahkan telak oleh tim SMA N 1 Merauke. Pada penerimaan siswa baru tahun pelajaran 2009/2010 kami kebanjiran calon siswa baru. 60% dari mereka memilih masuk SMA Teruna Bakti dengan alasan ingin mengembangkan minat dan bakatnya dalam cabang olahraga bola basket.

DBL 2010 Papua Series telah berakhir dengan menghadirkan jawara-jawara baru. Harapan baru untuk menggantikan posisi Yohana ‘Super’ Momot (SMA YPPK Teruna Bakti) yang pernah mewakili Papua dalam DBL All Star berlaga di Perth Australia kini telah digenggam oleh Alberto Mambrasar (SMA N 2 Jayapura) , Maria Soumilena (SMA YPPK Asisi)† dan yang lainnya. Turnament ini ditutup dengan tetesan air mata dan senyum kebahagiaan. Namun kami melihat cukup banyak catatan yang perlu diperhatikan oleh panitia pelaksana.

Pertama :
Pelaksanaan DBL 2010 Papua Series sepi penonton. Tidak seperti penyelengaraan tahun sebelumnya yang selalu dibanjiri oleh penonton dalam setiap partainya. DBL 2009 Papua Series sempat mengukir sejarah baru dalam jumlah penonton yang hadir untuk menyaksikan setiap pertandingan dalam GOR Cendrawasih. Belum pernah terjadi penonton harus diusir keluar hanya untuk memberikan kesempatan bagi ribuan penonton lainnya yang tidak dapat menyaksikan pertandingan agar dapat masuk GOR Cendrawasih. Pada partai final 2009, sempat terjadi ketegangan antara panitia penyelenggara dengan penonton yang tidak kebagian tiket masuk. Hal ini tidak terlihat pada DBL 2010 Papua Series. Tidak terlihat antrian panjang penonton yang masuk ke dalam gedung dan tidak sulit bagi pengendara sepeda motor hingga BUS untuk mencari tempat parkir kendaraannya karena begitu banyak space yang tersedia.

Menurut pengamatan saya, hal ini dapat terjadi karena promosi yang dilakukan tidak segencar promosi yang dilakukan pada tahun 2009. Selain itu hal sepinya penonton kali ini karena penyelenggaraan DBL 2010 Papua Series bertepatan dengan pelaksanaan Pra UAN bagi siswa SMA sekota Jayapura. Padalah jumlah penonton terbanyak pada tahun 2009 adalah para pelajar itu sendiri. Hal lain yang menyebabkan sepinya penonton adalah pelaksanaan DBL 2010 Papua Series karena pada saat yang bersamaan juga berlansung turnamen King City Cup 2010, sebuah turmanamen basket antar klub di kota Jayapura. Turmanen ini sudah mengakar di kota Jayapura, sehingga mampu menyerap ribuan penonton.

Karena sepi para penonton yang telah hadir di dalam gedung harus diarahkan oleh panitia pelakasana untuk duduk pada tempat yang panitia tentukan. Penonton tidak dapat menentukan sendiri pilihannya untuk duduk pada sudut pandang yang ia inginkan. Hal ini sangat merugikan bagi tim yang bertanding, karena supporter mereka akhirnya terpecah dan tersebar di dalam gedung. Kejadian ini sempat menimpa diri saya, sehingga emosi saya pun tersulut. Jika tidak mengingat profesi dan penonton yang kebanyakan adalah pelajar barangkali saat itu kami sudah terlibat dalam perkelahian.

Kedua :
Panitia kami nilai tidak konsisten dengan keputusan-keputusan yang sudah disepakati dalam technical meeting bagi tim basket, yel-yel, dan kontes lainnya. Pada technical meeting 25 Februari 2010 tim basket SMA Teruna Bakti diberi kesempatan untuk menentukan warna kostum yang akan dipergunakan pada partai pembuka. Tim menentukan untuk menggunakan warna almamater Orange-Hijau dan sudah disetujui oleh panitia. Namun pada dini hari tanggal 1 Maret 2010, pelatih basket SMA YPPK Teruna Bakti mendapatkan telepon dari panitia yang mengharuskan agar tim ini menggukanan kostum dengan warna yang berbeda. Ada apa sebenarnya yang terjadi dengan panitia? Mengapa perubahan ini disampaikan secara mendadak dan sepihak? Perubahan warna ini sangat mempengaruhi semangat tim, mengingat warna pilihan tersebut merupakan warna kebanggaan almamater.

Dalam technical meeting kedua tim yel-yel SMA YPPK Teruna Bakti mendapatkan giliran untuk tampil pada urutan keempat dalam partai final. Entah atas dasar apa panitia menentukan demikian, yang jelas tim siap. Ketika tim tiba di gor Cendrawasih untuk penampilan dalam partai final, sekonyong-konyong seorang panitia datang menghampiri pelatih tim yel-yel kami dan mengatakan bahwa tim kami harus tampil pada urutan pertama dan sesegera mungkin untuk mempersiapkan diri. Ketika ditanya atas dasar dan alasan apa panitia merubah urutan penampilan oleh pelatih tim yel-yel SMA YPPK Teruna Bakti, orang tersebut hanya diam seribu bahasa tidak dapat memberikan alasan apapun. Bukan karena harus tampil pada urutan permata yang membuat tim menjadi gursar, tetapi mengapa keputusan yang sudah disepakati bersama dalam technical meeting harus diubah secara sepihak dan mendadak. Tidak salah kalau terlintas dalam benak tim jika ada pihak-pihak tertentu yang dengan sengaja dan cara-cara yang tidak sportif ingin menjatuhkan tim .

30 menit menjelang penampilan final panitia tidak melayani penyimpanan barang-barang bawaan tim. Oleh beberapa orang panitia, tim disarankan agar membawa barang bawaanya masing-masing ke dalam gedung. Namun ketika tiba di pintu masuk oleh security pintu masuk, tim tertahan dengan alasan tidak diperbolehkan membawa barang bawaan ke dalam gudung. Sempat terjadi perang argumen antara tim dengan penjaga pintu juga melibatkan panitia penjaga barang bawaan peserta. Akhirnya panitia penitipan barang bersedia menerima titipan barang-barang bawaan tim, namun hal itu sempat menimbulkan perasaan jengkel dan kesal karena harus mondar-mandir pintu gerbang – tempat penitipan barang selama kurang lebih 15 menit. Sudah pasti ini mempengaruhi performa penampilan tim yang akan tampil.

Ketiga : DBL Papua Series merupakan kompetisi berjalan. Dikatakan demikian karena telah memiliki juara bertahan dan runner up. Hasil drawing dalam technical meeting kami nilai tidak menguntungkan bagi turnament itu sendiri karena penyebaran tim-tim kuat sangat tidak merata. Pertandingan sengit terjadi pada awal kompetisi karena saling berhadapan tim-tim kuat. Pada partai awal saja sudah saling berhadapan juara bertahan dan runner up tahun 2009. Akhirnya pada partai puncak saling bertemu dua tim yang tidak sebanding kelasnya. Sudah barang tentu hasil ini merugikan bagi kualitas turnamen itu sendiri.

Menurut hemat kami, sebaiknya pada penyelenggaraan DBL Papua Series berikutnya juara bertahan dan runner up sudah diplot pada pool yang berbeda. Sementara tim-tim lainnya menyesuaikan dengan hasil drawing. Dengan demikian, akan diperoleh kualitas turnamen yang lebih baik. Karena pada partai-partai selanjutnya akan saling berhadapan tim-tim yang relatif kuat.

Khusus dalam kompetisi yel-yel, sebaiknya oleh pihak penyelenggara ditentukan kategori dan konsep yang akan diperlombakan. Hal ini menjadi sangat penting bagi setiap peserta dalam mempersiapkan diri. Dengan demikian standard penilaiannya dapat dipertanggungjawabkan. Bagaimana kita dapat memberikan penilaian terhadap dua kategori yang berbeda dan menentukan mana yang terbaik diantara keduanya jika masing-masing kategori memiliki perbedaan standard penilaian yang berbeda?

Kritik dan saran ini kami tuangkan semata-mata agar turnamen yang besar ini akan menghasilkan kualitas yang lebih baik dari waktu ke waktu. Ini kami lakukan karena kami sangat mendukung pelaksanaan DBL Papua Series yang berkonsep Student Athlete. Maju terus DBL, kita bangun bersama generasi muda yang tangguh dan menjunjung tinggi nilai-nilai sportifitas.

Iklan

2 Tanggapan to “DBL 2010 Papua Series”

  1. diLa said

    keep moving on TB!!!

    pa guru..
    udah lama gag ngeblog,,
    miss you in net hahaha**

  2. Budisastro said

    salam kenal pak, dari kalimantann tengah..saya setuju pak kalau guru diajak ngeblog semua…salam pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: