Ferdinando Lase's Weblog

Just a little things about me…

Hari yang melelahkan…

Posted by Ferdinando Lase pada Agustus 1, 2009

Mengawali hari pertama di bulan Agustus 2009 ini saya jalani dengan penuh tanda tanya. Terbangun dari tidur yang lelap karena mimpi yang tidak biasanya. Dalam mimpi itu, saya menderita sakit mata (mata merah) pada mata kanan saya. Oleh istri saya dikucilkan (harus pisah ranjang) karena takut seluruh keluarga tertular oleh penyakit itu. Ketika terbangun, saya bertanya kepada istri arti dari mimpi itu. Namun ia hanya mengangkat kedua bahunya sambil mengerutkan keningnya pertanda bahwa ia tidak mengerti dengan arti mimpi saya itu.
Berangkat ke sekolah tepat pukul 08:30 karena pada hari ini saya tidak memiliki jadwal untuk mengajar hari Sabtu. Dari kejauhan saya melihat seorang rekan guru yang menatapku dengan penuh rasa iba, sedih, cemas, dan berbagai perasaan lainnya. Sempat bingung saya melihatnya, bahkan saya menjadi kurang percaya diri jangan-jangan ada yang tidak beres dengan dandanan saya.
Beberapa meter sebelum saya menghapirinya, mata ini sempat menoleh pada dinding kelas yang berwana kuning dan hijau muda itu. Ada yang menarik pada dinding itu. Nampak seperti ada sebuah lukisan kaligrafi berukuran besar yang dilukis dengan menggunakan cat semprot berwarna merah di atas dinding yang bersih itu.
Namun betapa terkejutnya saya ketika membaca lukisan itu. Dari beberapa kata yang terukir di atasnya, saya melihat ada kata “Lase”. Itu nama saya!!! Ternyata tidak hanya itu saja, selain namaku ada juga nama teman guru lainnya.
Sempat terpana untuk beberapa saat, emosi dan adrenalin saya sempat meninggi. Saya mencoba untuk menarik nafas dalam-dalam dan menenangkan diri. Saya kemudian mencoba untuk membaca seluruh kata yang dilukiskan pada dinding kelas itu. “Ferry Lase …… (nama rekan guru lainnya) babi”. Saya hanya bisa tersenyum melihat dan membacanya.
“Itu kerjaan anak-anak kurang ajar!!!”, kalimat itu terlontar dari mulut teman guru yang memperhatikan saya ketika masuk ke dalam lingkungan sekolah. “Biasa bu, beginilah kalau jadi orang terkenal…”, saya menjawabnya enteng.
Dari kejauhan terlihat ibu Kepala Sekolah berjalan menuju sekolah. Raut wajahnya menunjukkan kekecewaan dan kemarahan yang teramat besar. Beliau sempat terdiam beberapa saat ketika tepat berada di depan saya. “Pak Ferry sudah membacanya? Saya sangat marah pada satpam sekolah. Kemana saja mereka? Barusan saya omeli mereka, dan tidak akan membayarkan penuh gaji mereka bulan ini!”, itu kalimat-kalimat pertama yang terlontar darinya. Sekali lagi saya menjawab dengan dingin. “Tak apa-apa kok bu…”.
Bagi saya perkara ini bukanlah hal yang perlu saya risaukan, mendengarkan makian seperti yang dituliskan pada dinding itu tidak akan menggangu saya. Kemudian laptop saya siapkan lalu mulai dengan mengerjakan perangkat mengajar untuk semester ini. Saya memulainya dengan silabus.
Sementara saya mengerjakannya, kuping saya menjadi sangat panas ketika mendengarkan diskusi para guru yang membahas masalah ini. Saya menjadi sangat terganggu karena menurut saya mereka hanya ‘BICARA’, namun tidak melakukan usaha apa-apa untuk memecahkan misteri ini. Hahahaha… Laptop saya tutup, memasukkannya ke dalam ransel, dan kemudian menuju ruang aula untuk mempersiapkan pertemuan dengan wartawan Cendrawasi Pos yang akan menyerahkan hadiah sepatu bagi tim putri kami yang tampil sebagai juara DBL 09.
10.30 acara dengan para wartawan tersebut kami mulai. Sambutan dari Kepala Sekolah, juga Pak Lucky serta teriakan slogan sekolah yang sesekali terlontar dari mulut para siswa membuat saya dapat melupakan diskusi para guru yang memanaskan telinga.
Usai acara tersebut, saya dan Pak Joko (guru kesenian) menyiapkan 2 kelompok Musical Puisi sekolah yang akan terjun dalam lomba pada 3 Agustus nanti.
Tepat pukul 15:00, saya meluncur ke aula SMK N 3 Jayapura. Di sana sudah menunggu adik-adik saya yang mendekorasi ruang aula tersebut guna pernikahan salah satu adik saya besok. Saya menjadi sangat kecewa ketika melihat persiapan di sana. Adik perempuan saya harus memasang tirai latar pada ketinggian lebih dari 3 meter, sementara beberapa anak laki-laki (rekan kerja adik saya itu) nampak hanya duduk manis sambil menikmati asap rokok mereka masing-masing. Suka tidak suka, saya terpaksa harus turun tangan! Walau rasa kantuk telah menerpa, saya paksakan hingga pukul 19:00. Kemudian saya berpamitan untuk pulang. Belum keluar dari gedung itu, saya mendapatkan telepon dari adik ipar yang menyarankan agar saya tidak melewati jalur Brimob karena telah terjadi kerusuhan di sana. Hati saya sempat diselimuti oleh perasaan cemas, namun saya memutuskan untuk melewati jalur alternatif lainnya. 19:45 tiba di rumah dan kemudian sempat terlelap untuk sejenak. Jika bukan karena perut yang sudah keroncongan, saya tidak akan terbangun untuk mencari makan dan melakukan posting ini.
Sungguh melelahkan hari ini, namun saya bersyukur pada Tuhan Yesus karena telah mengajarkan kepada saya untuk lebih berlapang dada dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.
Terima Kasih Yesus…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: