Ferdinando Lase's Weblog

Just a little things about me…

Dilema Penerimaan Siswa Baru

Posted by Ferdinando Lase pada Juli 16, 2009

Sudah beberapa tahun terakhir ini saya selalu terlibat sebagai panitia Penerimaan Siswa Baru di sekolah tempat saya mengajar. Persoalan yang selalu saya temui dari tahun ketahun selalu saja sama. Setelah pengumuman seleksi siswa baru, kami selalu harus berhadapan dengan para orang tua calon siswa yang anaknya tidak lulus seleksi masuk. Menghadapi mereka membuat kepala ini ingin pecah rasanya. Syukur bila setelah diberikan pengertian dan menyarankan agar mereka segera mendaftarkan putra-putrinya ke sekolah lain yang kami rekomendasikan. Tapi kenyataannya tetap saja masih ngotot, dan tidak jarang pakai acara ngamuk-ngamuk. Hal ini sangat berbeda dengan apa yang pernah saya alami ketika mengajar di SMA RICCI I Jakarta 1995-2001.Kami pernah bersekolah di sini; Rumah kami dekat dengan sekolah ini; Sekolah ini terkenal dengan disiplinnya; Mutu sekolah ini bagus; dan sebagainya, itulah beberapa alasan yang selalu terlontar dari mulut para orang tua calon siswa. Seribu satu macam fakta pula utarakan mulai dari keterbatasan ruang kelas, surat-surat sakti yang sekolah kami terima, hingga nilai-nilai hasil seleksi anaknya yang tidak memenuhi standard kami agar mereka dapat memahami kondisi sekolah kami namun mereka tak bergeming.

Setiap hari para orang tua calon siswa itu hadir di sekolah hanya untuk mencari celah-celah yang bisa dimanfaatkan agar anaknya dapat diterima. Seharian sepanjang jam kerja mereka duduk di sekitar ruang guru sambil memperhatikan kami yang sedang bekerja. Jika ada kesempatan, mereka akan menghampiri kami dan kembali menyampaikan keluhan yang sama dengan guru yang itu atau yang ini. Terkadang kehadiran mereka membuat saya menjadi risih sehingga tidak dapat bekerja dengan nyaman. Saya pernah berinisiatif untuk menyelesaikan pekerjaan saya di rumah, namun hal ini tidak juga menyelesaikan masalah bahkan lebih parah. Mereka menghampiri saya di rumah. Bukan hanya satu, bahkan pernah tiga orang tua murid datang menghampiri saya pada saat yang bersamaan. Bagaimana bisa saya menolak kehadiran tamu yang datang ke rumah saya? Mungkin Anda bisa, tetapi saya tidak. Rasanya tidak tega saya membiarkan mereka terus mengetuk pintu rumah saya, atau membiarkan mereka duduk di teras rumah saya. Satu hal yang pasti, pekerjaan saya tak kunjung terselesaikan!

Pernah saya mencoba untuk pergi berlibur (memancing) ke tempat yang jauh dan berencana untuk bermalam di sana hanya untuk menghindari mereka. Namun tetap saja tidak bisa! Sambil menunggu umpan saya dimakan ikan, pikiran saya hanya tertuju pada rekan-rekan guru yang harus berhadapan dengan para orang tua calon siswa ini.

Tahun yang lalu dengan terpaksa kami menerima beberapa siswa yang telah dinyatakan tidak lulus seleksi karena sekolah kami didatangi dan diamuki oleh orang tua dan keluarga para calon siswa tersebut. Namun kenyataannya setelah proses belajar mengajar berlangsung anak-anak itu tidak menunjukkan etiket yang baik sebagai seorang pelajar. Sudah kami undang para orang tua untuk hadir dalam pertemuan dengan wali kelas, namun tidak digubris. Setelah mendapatkan ancaman anaknya akan kami keluarkan dari sekolah, baru mereka memperlihatkan batang hidungnya. Lalu apa yang terjadi. Sama seperti ketika mereka berusaha agar sang anak diterima di sekolah kami. Dengan muka memelas, mereka memohon agar anak-anak kesayangan mereka itu tidak dikeluarkan dari sekolah dan berjanji untuk memperhatikan mereka di rumah. Kenyataannya??? Sangat bertolak berlakang dengan janji mereka, sang anak tetap menunjukkan pembangkangannya. Hasilnya sudah bisa ditebak mereka tidak pernah muncul di dalam kelas sepanjang semester, hingga dinyatakan ‘LENYAP’ dari peredaran.

Saya kira pengalaman ini tidak hanya terjadi pada diri saya sendiri. Barangkali bagi rekan-rekan guru di tempat lain menghadapi hal yang sama. Saya pun tak dapat menyalahkan para orang tua calon siswa tersebut, saya kira saya pun akan melakukan hal yang sama bila saya berada pada posisi mereka. Lalu dimana pangkal persoalannya sehingga setiap tahun kami menghadapi kasus yang sama?

Perlu saya jelaskan di sini bahwa sekolah tempat saya mengabdi bukanlah sekolah swasta dengan aset yang besar. Sekolah kami dikelola oleh Keuskupan Jayapura dan siswa yang kami terima bukanlah anak-anak para pejabat tinggi di kota Jayapura. Kebanyakan pekerjaan orang tua siswa kami berprofesi sebagai petani dengan penghasilan yang tidak tetap. Hal ini turut berpengaruh dengan besarnya biaya pendidikan yang dapat kami tarik dari para orang tua. Biaya yang ditarik hanya dapat kami pergunakan untuk operasional sekolah saja. Sedangkan untuk pengembangan fisik sekolah kami hanya berharap bantuan dari Pemerintah. Mungkin Anda bertanya-tanya, apa yang dilakukan oleh Keuskupan Jayapura? Jumlah sekolah yang bernaung di Keuskupan Jayapura tidak hanya 1 atau 2. Akan tetapi berjumlah belasan dan tersebar di kota Jayapura, kabupatan Jayapura, kabupaten Keroom, Kabupaten Jayawijaya, Oksibil, dan beberapa daerah lainnya. Dibandingkan dengan sekolah kami, sekolah-sekolah di daerah yang sudah saya sebutkan itu lebih membutuhkan perhatian khusus.

Sudah waktunya pemerintah daerah dan pihak sekolah berupaya lebih giat lagi berusaha untuk meningkatkan mutu baik dengan memperhatikan sarana dan prasarana penunjang belajar hingga tenaga pengajar yang potensial. Dengan demikian akan ada banyak pilihan bagi calon siswa untuk mendaftarkan dirinya. Sehingga persoalan yang kami hadapi sekarang ini tidak lagi terjadi dikemudian hari.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: