Ferdinando Lase’s Weblog

Just a little things about me…

Peran Kepala Keluarga sebagai Imam

Ditulis oleh Ferdinando Lase di/pada April 15, 2009

“Pergi sana… jangan ganggu ayah! Tanyalah pada ibu!” atau “Bu, kamu tidak lihat apa yang sedang saya kerjakan!”. Kedua kalimat tersebut dan kalimat-kalimat senada lainnya adalah sebuah senjata yang ampuh seorang ayah atau suami terhadap anak maupun istrinya untuk menghentikan permintaan mereka. Dengan kata lain kalimat-kalimat itu dipergunakan oleh para kepala keluarga (ayah) untuk menyendiri dan tenggelam dalam kesibukannya.

Tanpa disadari bahwa kalimat-kalimat pendek yang keluar dari mulut sang ayah itu dapat merusak keharmonisan sebuah rumah tangga. Anak tidak akan lagi mau berkomunikasi dengan ayah karena tahu bahwa sang ayah terlalu sibuk untuk ditanyai soal pekerjaan rumah yang ditugaskan oleh guru di sekolah. Sementara istri akan meresa diduakan oleh pekerjaan-pekerjaan sang suami, sehingga tidak lagi mendapatkan perhatian.

Kebanyakan dari para suami merasa bahwa tanggung jawabnya terhadap keluarga adalah mencari nafkah. Sementara urusan rumah tangga dan anak adalah tanggung jawab istri. Umumnya para suami beranggapan bahwa keberhasilannya membangun sebuah keluarga diukur dengan banyaknya uang dan materi yang diperolehnya dari usaha-usahanya. Padahal masih ada tugas lainnya yang seharusnya dilakukan. Tugas lain seorang kepala keluarga yang sering diabaikan adalah : MENDENGARKAN, MENDOAKAN, dan MELAYANI.

Mendengarkan : “Dengan mendengarkan orang lain dapat terselamatkan”. Jikalau Anda seorang yang percaya kepada Yesus, pasti Anda tahu apa yang terjadi ketika Yesus disalibkan. Ia disalibkan bersama dengan dua orang penjahat, yang satu ditempatkan di sebelah kiri dan yang lainnya di sebelah kanan. Seorang yang di sisi kiri menantang Yesus untuk segera turun dan membebaskan mereka dari salib yang menyiksa jika memang Dia sungguh Anak Allah. Berbeda dengan orang yang berada di sisi kanannya, dia malah meminta Yesus untuk tidak melupakannya jika kelak Ia kembali untuk menghakimi. Apa yang dilakukan Yesus? Dia mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan oleh penjahat itu dan mengatakan kepadanya “Saat ini juga engkau akan bersamaKu di taman Firdaus”. Dengan mengakatan itu, Yesus memastikan bahwa ia telah diselamatkan. Jika pada saat itu ketika Yesus tengah menahan sakit yang luar biasa, Ia begitu kelelahan dan mengatakan seperti apa yang biasanya kita katakan “Emangnya GUE pikirin???” sudah pasti sipenjahat itu tidak akan terselamatkan.

Coba Anda ingat kembali apa yang biasanya Anda katakan kepada anak dan istri Anda jika anda sedang kelelahan?

Mendoakan : “Mintalah maka kepadamu akan diberi”. Itulah salah satu pesan yang pernah disampaikan oleh Yesus kepada pengikutnya. Saya melihat makna dibalik pesan itu adalah bahwa kita sebagai manusia tidak akan mampu melakukan apapun dengan hanya mengandalkan kekuatan sendiri. Kebanyakan para ayah berlaku OTORITER terhadap keluarga. Apa yang akan terjadi jika hal itu terus berlanjut? Keluarga Anda hanya akan patuh, dan bersikap baik apabila Anda berada disekitarnya. Mereka melakukan itu semua karena TAKUT kepada Anda. Namun ketika Anda tidak berada bersama dengan mereka, tabiat asli mereka akan muncul ke permukaan. Sesungguhnya Anda hanya perlu meluangkan waktu 5 menit bahkan kurang untuk meminta kepada Allah berkatNya atas keluarga Anda. Lakukanlah dengan sungguh hati, maka Anda akan melihat hasilnya.

Melayani : “Jikalau Anda ingin menjadi yang terbesar, jadilah yang terkecil”. Hal yang satu ini rasanya paling berat dibandingkan dengan yang lainnya. Sebagai kepala keluarga umumnya kita lebih sering dilayani. Bentuk pelayanan yang sederhana yang dapat Anda lakukan adalah dengan mengantarkan anak ke sekolah, menemaninya menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya, atau bahkan membantu menyiapkan buku yang harus dibawanya besok. Pelayanan sederhana seperti ini sangat berharga dirasakan oleh anak. Namun oleh karena kesibukan dan alasan lainnya hal-hal sederhana seperti itu jarang bahkan mungkin tidak pernah dilakukan.

Memang butuh waktu untuk dapat menjalankan ketiga hal ini. Oleh sebab itu, cobalah untuk melakukannya langkah demi langkah untuk membiasakan diri Anda dengan sebuah perubahan baru. Jika ketiga hal ini dapat Anda lakukan percayalah keluarga akan menjadi tempat paling menyenangkan bagi Anda. Saya tidak bermaksud untuk mengajari saudara dengan tulisan-tulisan ini, hanya saja saya ingin membagikan sebuah masukan yang saya peroleh dari orang-orang yang telah membawa sebuah perubahan yang baik dalam kehidupan keluarga saya.

Kepada Bapak Jatmiko, Bapak Cendana, dan Ibu Josepha, saya ucapkan terima kasih banyak atas segala perhatian dan masukan bagi saya. Selama ini saya merasa telah menjalankan tugas saya sebagai seorang kepala keluarga dengan baik, ternyata apa yang saya lakukan selama ini masih sangat jauh bahkan belum pada jalur yang semestinya. Tuhan Yesus memberkati bapak dan ibu sekalian…

Satu Tanggapan ke “Peran Kepala Keluarga sebagai Imam”

  1. joice berkata

    That’s why pergumulan mencari TH khusunya calon suami adalah pergumulan yang besar…
    hohoho…

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>